15 Urban Legend Paling Menakutkan di Seluruh Dunia
Perhatian:
Tolong jangan tatap gambar ini lama-lama…berbahaya….
Tahu kan yang namanya urban legend? Urban legend atau legenda perkotaan adalah cerita (biasanya cerita seram) yang menyebar dari mulut ke mulut di daerah perkotaan. Berbeda dengan legenda biasa yang terjadi di masa lalu, urban legend ini bersetting di zaman modern. Berikut ini adalah 15 kisah urban legend paling menakutkan yang kukumpulkan dari segala penjuru dunia (lewat google tentunya). Baca gece kalo, lo berani!
1. 21 and Still Counting (Amerika)
Seorang gadis melihat seorang wanita menghitung
sesuatu di sebuah stasiun. Apa yang dihitungnya ternyata sangatlah mengerikan
....
“ 21 AND STILL
COUNTING ... ”
(21 DAN MASIH
MENGHITUNG ... )
Suatu hari seorang gadis muda tengah menunggu di
sebuah stasiun kereta ketika ia mendengar seseorang bergumam di belakangnya. Ia
berbalik dan melihat seorang wanita duduk di sebuah bangku. Gadis itu menyadari
saat itu hanya ada mereka berdua di stasiun tersebut.
Wanita itu sangat aneh, pikir gadis itu. Wanita itu
berumur 40-an dan duduk dengan tidak tenang. Ia menggoyang-goyangkan badannya
ke depan dan ke belakang sambil bergumam,
“21...21...21...”.
Gadis itu bisa melihat kalau wanita itu terlihat agak
“stress”, bahkan mungkin gila.
Ia berniat untuk mengacuhkan saja wanita itu. Namun
wanita itu terus saja bergumam,
“...21...21...21...”
Lama-kelamaan gadis itu menjadi penasaran. Iapun
bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita itu.
“Ibu, apa yang sedang ibu hitung?”
Wanita itu tak menjawab, bahkan tak menatap gadis itu.
Ia hanya terus bergumam,
“....21....21...21....”
Gadis itu melihat di sekitarnya, mencoba mencari tahu
apa yang sedang wanita itu hitung. Di saat yang sama, gadis itu heran. Jika ia
memang menghitung sesuatu, mengapa angkanya selalu sama.
Kemudian terdengar suara kereta datang.
Tiba-tiba saja wanita itu menerjang gadis muda dan
mendorongnya ke arah rel.
“Aaaaaa!!!” teriak gadis itu, namun terlambat. Kereta
yang melaju kencang itu terlanjur menyambar tubuhnya.
Warna merah dari darah gadis itu bercipratan hingga ke
dinding dan kursi-kursi di stasiun itu.
Wanita itu kembali duduk seolah tak terjadi apa-apa
dan mulai bergumam.
“...22....22...22...”
2. Keyhole (Amerika)
Seorang pria menginap di sebuah hotel dan sudah diberi
peringatan agar tidak mengintip ke kamar tertentu. Ia melanggarnya. Apa yang
akan terjadi?
“KEYHOLE”
‘”LUBANG KUNCI”
Seorang pria datang ke sebuah hotel. Ketika check in, sang resepsionis memperingatkannya,
“Tolong jangan masuk ke kamar yang tak ada nomornya.”
Pria itu mengangguk dan segera mencari kamarnya yang bernomor 10. Saat itulah, ia melihat sebuah kamar tanpa nomor yang tadi dikatakan sang resepsionis. Karena penasaran, ia mengintip melalui lubang kunci untuk melihat apa isinya.
Ia hanya melihat seorang wanita tua berwajah pucat sedang duduk di tengah ruangan. Aneh sekali, seakan-akan seluruh kulit tubuh wanita itu berwarna putih, tidak seperti kulit manusia kebanyakan.
Tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan menatapnya.
Karena ketakutan, iapun segera lari ke kamarnya.
Malamnya ia tak bisa tidur. Ia masih penasaran mengapa resepsionis itu memperingatkannya untuk menjauhi kamar itu. Dan mengapa pula kamar itu tidak diberi nomor?
Saking penasarannya, saat itu juga ia bangkit dari tempat tidurnya, mengendap-ngendap di lorong hotel, dan mengintip kamar itu sekali lagi melalui lubang kunci.
Namun yang ia lihat hanyalah warna merah.
Pria itu berpikir, mungkin wanita itu merasa terganggu karena ia tadi mengintipnya dan memutuskan untuk menutup lubang kunci dengan sesuatu yang berwarna merah.
Pria itupun kembali ke kamarnya untuk tidur.
Keesokan harinya saat akan check out, pria itu menanyakan mengapa kamar yang ia lihat kemarin tidak diberi nomor.
Resepsionis itupun bercerita dengan wajah sedih.
“Dahulu ada sepasang suami istri yang menginap di kamar itu. Suatu hari mereka bertengkar dan sang suami membunuh istrinya itu. Sejak kejadian itu, kami tak berani menyewakan kamar itu, jadi kami mencopot nomornya dan membiarkannya kosong.”
Pria itu pergi dan tertawa. Ia sama sekali tak percaya dengan cerita hantu. Yang ia lihat kemarin jelas-jelas manusia dan bukan hantu.
“Oya,” sang respsionis berkata ketika pria itu hampir sampai di ambang pintu.
“Wanita itu tidak seperti manusia kebanyakan. Ia menderita kelainan genetik sehingga seluruh kulit tubuhnya putih.”
Langkah pria itu terhenti.
Sang resepsionis mengakhiri ceritanya.
“Dan matanya merah.”
3. Ribbon (Amerika)
Pacarmu menggunakan pita merah misterius di lehernya
yang tak pernah ia lepas. Apakah kamu ingin mengetahui mengapa ia terus
memakainya?
“THE RIBBON”
(PITA)
Alkisah, ada seorang wanita yang sangat cantik dan
sangat dikagumi oleh para pria yang hidup di daerah sekitar tempat tinggalnya.
Namun ada yang aneh dengan gadis itu. Ia selalu saja memakai sebuah pita merah
di lehernya. Entah mengapa gadis itu melakukannya, tak ada yang tahu alasannya.
Gadis itu juga selalu menolak menceritakan alasan mengapa ia selalu mengikatkan
pita merah di sekeliling lehernya.
Hingga suatu hari ia jatuh cinta dengan seorang pria
dan pria itu membalas cintanya.
Tentu sang pria sangat senang mendapatkan kekasih yang
sangat cantik. Namun ia sangat penasaran mengapa gadis itu selalu memakai pita
merah di lehernya.
“Mengapa kau selalu memakai pita merah itu?” tanya
sang pria.
Gadis itu enggan menjawab.
“Akan kuceritakan padamu jika kita menikah nanti.”
Beberapa bulan berlalu dan kedua pasangan itu kemudian
bertunangan dan akhirnya menikah. Namun setelah menikah pun, gadis itu tetap
mengingkari janjinya untuk menceritakan alasan mengapa ia selalu memakai pita
merah.
Sang pria tak pernah mendesak istrinya untuk
menceritakannya agar istrinya itu tidak marah. Namun ia masih saja sangat
penasaran. Apalagi ia memperhatikan bahwa istrinya itu tak pernah sekalipun
melepas pita merah, tidak saat ia tidur bahkan saat sedang mandi.
Hingga suatu saat ia melihat sang istri sedang
tertidur lelap.
Karena penasaran, sang suami mendekatinya dari sisi
ranjang dan perlahan-lahan melonggarkan pita merah yang melilit di leher
istrinya itu.
Karena istrinya tampak tak menyadarinya, sang pria pun
melepaskan dan menarik pita merah itu dari leher istrinya.
Tiba-tiba ...
“Glundung ...”
Kepala istrinya terlepas dari lehernya dan
menggelinding di lantai.
4. White String (Jepang)
Jepang memang kaya akan cerita2 seram. Seperti urban
legend yang satu ini, yang membuat para remaja kala itu tak berani menindik
telinga mereka. Mengapa?
“WHITE STRING”
(BENANG PUTIH)
Urban legend ini sangat populer pada tahun 90-an di Jepang. Banyak remaja Jepang yang mempercayai kebenaran cerita ini sehingga tak berani menindik telinganya.
Kisahnya bermula ketika seorang gadis seumuran SMP merengek ada orang tuanya untuk mengizinkannya menindik telinganya. Ia berkata bahwa semua anak perempuan di kelasnya sudah menindik telinganya, hanya ia saja yang belum.
Kedua orang tuanya awalnya tak mengizinkan. Namun karena sang gadis merengek terus-menerus, merekapun akhirnya mengizinkannya. Orang tua gadis itu lalu memberinya sejumlah uang dan menyuruh gadis itu untuk menindik telinganya di toko perhiasan yang terpercaya di sebuah mall dekat rumah mereka.
Namun sang gadis berpikiran lain.
Ia hendak menyimpan uang pemberian orang tuanya dan memutuskan untuk menindik telinganya sendiri. Iapun meminta sahabatnya untuk membantunya menindik telinganya. Mereka menggunakan jarum yang dipanaskan dan kemudian ditusukkan ke kedua cuping telinga gadis itu. Dia merasa sangat kesakitan, namun begitu melihat hasilnya, ia sangat puas. Ia kini bisa memakai anting-anting pilihannya dan tampil penuh gaya seperti gadis-gadis lain di sekolahnya.
Namun keesokan harinya ada yang aneh.
Ia terbangun di pagi hari karena rasa gatal yang teramat sangat di telinganya. Rupanya cuping telinga yang ia tindik terlihat merah dan meradang.
Tak hanya itu.
Tampak seutas benang putih kecil menjulur dari lubang yang ia buat kemarin di cuping telinganya.
Merasa penasaran, ia menarik benang itu.
Benang itu sangat halus dan panjang. Ia menariknya terus-menerus, namun seakan-akan benang itu tak ada habis-habisnya.
Merasa tak sabar, gadis itu mengambil gunting dan memotong benang putih itu.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Ia histeris dan memanggil kedua orang tuanya.
Orang tuanya yang panik segera membawanya ke rumah sakit.
“Mengapa kau bisa jadi begini?” tanya sang dokter yang memeriksanya.
Sang gadis kemudian menceritakan segalanya.
Sang dokter menjawab dengan suara sedih, “Maaf, tapi harus kukatakan bahwa kau akan mengalami hal ini seumur hidupmu.”
“Kenapa?” tanya gadis itu, tercekat.
“Benang putih yang kau potong itu bukan sembarang benang putih.”
“Benang apa itu?” tanya gadis itu, putus asa.
“Itu saraf matamu.”
5. Gozu / Cow’s Head (Jepang)
Cerita ini konon sangatlah seram hingga yang
mendengarnya akan mati ketakutan. Cerita apakah itu?
“GOZU”
(KEPALA SAPI)
Di hari Minggu yang cerah, sekelompok remaja SMA
tengah bergembira. Hari itu mereka melakukan darmawisata yang diadakan sekolah.
Mereka semua tengah naik bus ditemani oleh seorang guru mereka.
Perjalanan itu memakan waktu cukup lama sehingga
mereka akhirnya bosan di dalam bus. Melihat anak-anak didiknya merasa bosan,
sang guru memutuskan menceritakan kisah-kisah seram untuk menghibur
murid-muridnya.
Namun satu-persatu kisah yang guru itu ceritakan tak
ada yang mengesankan bagi murid-muridnya. Mereka semua sudah tahu semua cerita
itu dan bisa menebak akhir ceritanya.
Tanpa mereka sadari, mereka memasuki wilayah hutan dan
semakin dalam dikelilingi pepohonan.
“Kalau begitu,” kata si guru, “aku akan menceritakan
satu cerita lagi. Apa kalian pernah mendengar tentang cerita “Gozu”?”
Gozu dalam bahasa Jepang berarti “Kepala Sapi”.
Para murid saling menatap satu sama lain.
Cerita apa itu? Mereka belum pernah mendengar sebuah
cerita berjudul Gozu sebelumnya.
Karena tak ada yang pernah mendengarnya, para murid
pun meminta guru itu menceritakannya, karena berharap cerita yang mereka dengar
akan sangat menarik.
“Namun siap-siap ya, cerita ini sangat seram ...” kata
sang guru menakut-nakuti.
Murid-muridnya tertawa, lalu sang guru memulai
ceritanya.
Para murid tercekat mendengar cerita yang sedang
dikisahkan oleh guru mereka.
Beberapa di antara mereka bahkan berteriak-teriak dan
menjerit. Beberapa siswi perempuan menutup telinga mereka dan menangis.
“Pak, hentikan!”
Para murid memohon pada guru mereka untuk menghentikan
cerita itu karena kisah itu sangat mengerikan.
Namun guru itu terus saja melanjutkan ceritanya tanpa
mengindahkan teriakan dan jeritan ketakutan dari para muridnya.
Seakan-akan ia sedang kesurupan.
Beberapa jam kemudian, beberapa polisi menemukan bus
itu teronggok di tepi jalan. Ketika polisi naik ke dalam bus, mereka pun
terkejut.
Mereka menemukan seluruh murid (bahkan sang sopir
bus), tergeletak tak sadarkan diri. Wajah mereka sangat pucat dan mulut mereka
mengeluarkan busa.
Sang guru juga ditemukan tergeletak pingsan di lantai
bus.
Pihak berwajib membawa mereka semua ke rumah sakit
terdekat. Di sana mereka dirawat dan diperbolehkan pulang pada hari itu juga
setelah dijemput oleh orang tua mereka.
Polisi pun menanyai sang guru untuk mencari kejelasan
peristiwa itu.
“Apa yang terjadi?”
“Saya tidak tahu. Yang saya ingat, saya sedang
menceritakan sebuah cerita seram pada murid-murid saya.”
“Cerita apa itu?”
Sang guru hanya menatap wajah polisi yang menanyainya.
“Saya tidak ingat”.
Para murid lainnya juga mengatakan mereka tak ingat
isi cerita yang mereka dengar. Yang mereka ingat jelas, cerita itu membuat
mereka sangat ketakutan.
Hingga kini, tak seorang pun tahu isi cerita “Gozu”,
karena konon jika kamu mendengarnya hingga selesai, maka kamu akan mati
ketakutan.
Kita hanya bisa menebak-nebak seseram apa kisah itu.
6. Pedestrian Crossing (Jepang)
Kau pasti tak ingin mengalami apa yang dialami pemuda
Jepang ini saat sedang menyeberang jalan.
“PEDESTRIAN
CROSSING”
(ZEBRA CROSS)
Suatu
sore, sepulang bekerja aku berada di sebuah persimpangan jalan. Sambil menunggu
lampu merah, aku berdiri di depan sebuah zebra cross dan mengamati orang-orang
yang berada di seberangku. Mereka juga menunggu untuk menyeberang, sama seperti
aku.
Namun
di antara mereka, ada seorang wanita yang tampak aneh.
Pertama-tama
aku pikir ia memakai masker.
Namun
bukan itu.
Wajahnya
tampak kabur.
Aku
mencoba mengamatinya, namun wajahnya tak berubah.
Aku
bahkan tak bisa mengenali wajahnya, dimana hidung, mata, maupun telinganya.
Seakan-akan
wajahnya rata.
Anehnya,
orang-orang di sekitarnya tampak mengacuhkan wanita itu, walaupun penampilannya
sangat menakutkan.
Lampu
merah menyala.
Mobil-mobil
berhenti dan orang-orang mulai menyeberang.
Begitu
pula aku, namun aku mencoba untuk menjauhi wanita itu.
Ia
berjalan di sebelah kanan zebra cross, sehingga aku sebisa mungkin berjalan di
sisi kiri zebra cross. Namun ia justru berpindah ke sisi kiri juga.
Ia
berjalan tepat menuju ke arahku.
Wajah
wanita itu semakin menakutkan ketika ia mendekat.
Akupun
menundukkan kepalaku karena ketakutan.
Di
suatu titik, kami berpapasan.
Aku
terus berjalan. Namun walaupun aku berusaha menghindarinya, wanita itu justru
berbalik dan mengikutiku.
Begitu
aku sadar, ia sudah berada di belakangku dan berbisik di telingaku.
“Aku
tahu kau bisa melihatku.”
7. Lick (Amerika)
Seorang gadis sedang tertidur di dalam kegelapan
ditemani anjing kesayangannya. Apa yang ia temukan keesokan harinya akan
membuatmu ngeri.
“LICK”
(MENJILAT)
Suatu
hari seorang gadis remaja ditinggal oleh orang tuanya yang akan menginap di
tempat saudara mereka. Sang gadis meyakinkan orang tuanya untuk berhenti
khawatir kepadanya. Ia akan mengunci semua jendela dan pintu. Lagipula, gadis
itu sendiri, ada anjing setianya yang menemaninya di kamarnya.
Malam
itu, sang gadis hendak tidur. Ia mengunci semua pintu dan jendela. Namun ada
sebuah jendela yang tak bisa ia kunci. Akhirnya ia hanya menutupnya begitu
saja.
Gadis
itupun naik ke atas ranjang dan di bawah ranjang, anjing setianya meringkuk.
Ia
mengulurkan tangannya ke bawah dan anjingnya menjilati jari-jarinya, seperti
yang biasa dilakukannya. Entah mengapa ia merasa aman jika anjingnya melakukan
hal itu. Gadis itu jadi tidak merasa sendirian di kamar.
Gadis
itu kemudian tertidur. Namun saat tengah malam, ia mendengar suara “Tip tap tip
tap ...”. Seperti suara air menetes di atas wastafel.
Saat
ia membuka mata, kamarnya gelap gulita. Iapun menjulurkan tangannya ke bawah
dan merasakan jari-jarinya dijilati.
Iapun
kembali tidur.
Beberapa
jam kemudian, ia kembali terbangun.
Suara
“Tip tap tip” itu masih saja terdengar.
Ia
menjulurkan tangannya ke bawah.
Jari-jarinya
terasa hangat dan basah oleh jilatan.
Sang
gadis lalu kembali tidur. Ia tak memikirkan suara itu lagi. Mungkin saja itu
suara tetesan air di keran kamar mandinya.
Untuk
ketiga kalinya, ia kembali terbangun oleh suara “Tip tap tip tap” itu.
Gadis
itu menjulurkan tangannya kembali ke bawah.
Namun
kali ini tak ada jilatan.
Gadis
itu mengira anjingnya tertidur dan menyalakan lampu.
Namun
anjingnya tak tampak di bawah ranjangnya.
“Tip
tap tip tap”
Suara
itu masih terdengar.
Gadis
itupun memutuskan bangun dan memeriksa asal suara “Tip tap tip tap ...” yang ia
dengar. Rupanya suara itu berasal dari kamar mandi di sebelah kamarnya.
Iapun
membuka pintu dan menyalakan lampu kamar mandi.
Segera
ia menjerit.
Di
dalam kamar mandi tampak anjingnya tergantung di atas wastafel. Lehernya
digorok dan darahnya menetes di atas wastafel, menciptakan suara “Tip tap tip
tap.”
Yang
lebih mengerikan, di dinding terdapat kata-kata yang ditulis dengan darah
anjingnya.
“AKU
JUGA BISA MENJILAT.”
8. Wristband (Korea)
Cerita horor ini terjadi di sebuah rumah sakit di
Korea. Cukup untuk membuat bulu kudukmu berdiri.
“WRISTBAND”
(GELANG)
Di
Korea, terdapat peraturan yang berlaku di semua rumah sakit. Ketika pasien
masih hidup, gelang berwarna putih diikatkan di lengan kanan mereka. Gela ngitu
berisi nama pasien serta informasi lainnya. Namun ketika pasien meninggal,
gelang itu dilepas dan digantikan dengan sebuah gelang merah yang diikatkan di
lengan kiri sebelum jenazahnya dibawa ke kamar mayat.
Kisah
ini terjadi pada seorang dokter yang sedang shift malam di sebuah rumah sakit.
Ia
akhirnya menyelesaikan shift malamnya pukul 2 dini hari dan merasa sangat
lelah. Rumah sakit tampak sangat sepi sebab pada jam 2 dini hari, tentu semua
pasien sedang terlelap dan sebagian besar perawat juga telah pulang.
Ia
menyalakan lift dari lantai lima untuk turun ke basement, dimana mobilnya
diparkir. Di dalam lift hanya tampak seorang wanita tua.
Ia
berdiri di samping wanita tua itu, yang tampaknya juga ingin turun di basement.
Begitu
lift mereka sampai di basement, pintu lift terbuka dan tampak seorang pria
berpakaian putih.
Wanita
yang tadi bersamanya hendak keluar dari lift.
Dokter
itu melihat sesuatu di tangan pria itu. Segera ia menarik wanita yang tadi
bersamanya kembali ke dalam lift. Dengan panik ia menekan tombol ke lantai lima
dan pintu lift pun tertutup.
“Hei,
ada apa denganmu?” wanita itu tampak marah karena dokter itu menariknya masuk
kembali.
“Anda
beruntung saya tadi tidak membiarkan anda keluar.” Ujar dokter itu. “Anda tidak
melihat, di tangan kiri pria tadi ada gelang merah? Berarti dia sudah
meninggal!”
“Gelang
merah?” tanya wanita itu sambil menunjukkan tangan kirinya.
“Maksudmu
seperti ini?”
9. Red Robe (Jepang)
Seorang wanita menginap di sebuah hotel dan menemukan
sejarah mengerikan hotel tersebut. Namun bagian yang paling mengerikan adalah
endingnya yang tak terduga.
“RED ROBE”
(JUBAH MERAH)
Seorang
wanita Jepang sedang berlibur di Amerika dan memutuskan menginap di sebuah
hotel murah untuk menghemat uangnya.
Saat
ia tiba di kamarnya, ia menyadari bahwa ia berada di kamar 66 di lantai ke-6.
Secara teknis, kamarnya bernomor 666.
Ia
bergidik ngeri. Namun ia berpikir, ini semua pasti kebetulan. Ia pun tak
terlalu memikirkannya dan pergi mandi.
Beberapa
saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Ia
keluar dari kamar mandinya dan mengenakan jubah mandi putih bertudung yang
sudah disiapkan di hotel tersebut bagi tamunya.
Ia
membuka kamarnya, namun tak ada seorangpun di luar kamarnya.
Iapun
menutup kembali kamarnya dan berganti pakaian. Kembali terdengar ketukan di
pintu kamarnya.
Ia
membuka kamarnya dan melihat seorang gadis kecil memakai jubah mandi bertudung
yang sama persis seperti yang tadi ia pakai. Hanya warnanya merah.
“Ada
yang bisa saya bantu? Dimana orang tuamu?”
Ia
melihat bahwa gadis kecil bertudung merah itu tampak habis menangis.
“Saya
terkunci di luar kamar. Anda bisa membantu saya?”
Wanita
itu memutuskan untuk membawa gadis itu ke resepsionis. Kasihan, pikirnya. Gadis
itu tampak kebingungan.
Dalam
perjalanan ke resepsionis, ia bercakap-cakap dengan gadis itu.
“Siapa
namamu?”
Gadis
itu tak menjawab.
Mungkin
gadis ini sudah diajari oleh orang tuanya untuk tidak bercakap-cakap dengan
orang asing, pikir wanita itu.
Ia
bertanya lagi.
“Dimana
orang tuamu?”
“Tidak
tahu.”
“Apa
kamarmu di lantai ini juga?”
Gadis
itu mengangguk.
Akhirnya
mereka sampai di depan meja resepsionis.
“Bisa
anda bantu gadis kecil ini? Ia terkunci di luar kamarnya.”
Resepsionis
itu melongok, “Gadis yang mana?”
“Gadis
berjubah merah ini ...”
Namun
ketika wanita itu menoleh, tak ada seorang pun di sana.
“Aneh,
ia tadi di sini. Katanya ia menginap di lantai 6, sama seperti saya.”
“Lantai
6?” resepsionis itu tampak heran, “Namun hanya anda tamu yang menginap di
lantai 6.”
“Tapi
tadi ada gadis yang memakain jubah mandi bertudung warna merah ...”
Resepsionis
itu menghela napas, “Anda sudah bertemu ‘dia’ rupanya.”
“Dia
siapa?”
“Dahulu
pernah terjadi sebuah tragedi di hotel ini. Kami tak suka membicarakannya,
namun karena anda sudah melihat ‘dia’, apa boleh buat. Dahulu ada sepasang
suami istri menginap di lantai 6 bersama anak perempuannya. Mereka menginap di
kamar 66, sama seperti anda. Namun mereka berdua bertengkar dan sang suami
menembak istrinya. Ia lalu membunuh anaknya sendiri. Saat itu, anak itu memakai
jubah mandi putih yang langsung berwarna merah karena terkena darahnya. Tapi
pria itu tetap tak puas. Ia mengisi senjatanya dan mulai menembaki semua orang
di hotel ini, karyawan dan para tamunya.”
Napas
wanita itu terasa terhenti karena ketakutan. Namun cerita sang resepsionis
ternyata belumlah selesai.
Resepsionis
itu lalu berbalik dan menunjukkan lubang merah di punggungnya.
“Lihat,
di sini ia menembakku.”
10. Pizza (Amerika)
Seorang pria mengantarkan pizza untuk tetangganya. Ia
akan menyesali keputusan itu.
“PIZZA”
Seorang
pria mengalami kecelakaan mobil. Kakinya patah dan ia harus beristirahat
beberapa hari di dalam rumah hingga kondisinya pulih. Pria itu tinggal di
apartemen bersama istrinya. Sayangnya istrinya harus bekerja sehingga tak bisa
merawat pria itu. Beberapa hari pertama, pria itu merasa senang karena bisa
tinggal di rumah seharian. Namun lama-kelamaan ia merasa bosan.
Suatu
hari saat menyalakan televisi, ia mendengar suara anak-anak berlari di lantai
atasnya. Ia berpikir ini aneh, sebab jam segini harusnya anak-anak belum pulang
dari sekolah. Esoknya, ia juga mendengar suara anak bermain dari lantai atas.
Si
pria merasa lapar dan memesan dua kotak pizza melalui layanan pesan antar. Ia
merasa sudah kenyang setelah memakan sekotak pizza dan merasa tak sanggup
menghabiskan satu kotak pizza lagi. Jika ia menunggu istrinya pulang, mungkin
pizza itu rasanya sudah tak enak lagi.
Akhirnya
ia memutuskan untuk berbuat baik dengan memberikan pizza itu pada keluarga yang
tinggal di atasnya. Bukannya ada anak-anak tinggal di bawahnya? Mereka pasti
senang dengan pizza gratis.
Dengan
kepayahan iapun keluar dari kamar dan naik dengan lift.
“Ouch...ouch...”
sesekali ia mengerang karena kakinya belum sembuh benar ketika berjalan menuju
kamar di lantai atasnya itu.
“Ting
tong.” ia menekan bel, namun tidak terdengar jawaban.
Ia
kembali menekan bel dan terdengar suara dari dalam pintu.
“Siapa?”
terdengar suara wanita dari balik pintu.
“Saya
tetangga yang tinggal satu lantai di bawah anda.”
Pintu
dibuka, namun hanya sedikit. Dari sela pintu, terlihat wajah seorang wanita
separuh baya. Namun kamar itu sangat gelap sehingga yang bisa ia lihat hanya
kepala wanita itu.
“Ada
apa?”
“Anda
mau pizza? Saya tadi memesannya namun tidak habis. Mungkin anda mau?”
“Tidak,
terima kasih.” Jawab wanita itu tanpa ekspresi.
“Ehm,
mungkin anak-anak anda mau?”
Tiba-tiba
terlihat kepala seorang anak laki-laki dan anak perempuan di bawahnya. Mereka
pasti anak-anak yang kerap ia dengar suaranya saat bermain.
Ketiga
wajah itu menatapnya, berbaris membentuk satu lajur dari atas ke bawah.
“Baiklah,
kami mau.”
Wanita
itu menerima pizza itu dan pintu itupun dibanting, tertutup.
Pria
itu berbalik, namun entah kenapa ia merasa ada yang aneh.
Seluruh
bulu kuduknya terasa mengigil.
Wajah
ketiga orang itu terpatri dalam ingatannya.
Ia
mengambil langkah cepat, tanpa peduli rasa sakit di kakinya, untuk segera
menuju lift.
Ketiga
wajah mereka membentuk garis, pikirnya.
Ia
menekan tombol lift dan menunggunya untuk datang.
Membentuk
garis vertikal, dari atas ke bawah. Satu wajah di atas wajah yang lain.
Ia
menekan tombol lift kembali, namun lift itu tak kunjung datang.
Ada
yang aneh dengan wajah mereka.
Lift
itu terlalu lama. Pria itu memutuskan menggunakan tangga.
Wajah
tampak berbaris, satu di atas yang lain ... itu mustahil!
Ia
melupakan rasa sakit di kakinya ketika ia menapaki tangga dengan langkah panik.
Pria
itu mulai menyadari apa yang salah dengan keluarga itu.
Hanya
ada kepala, tanpa badan ....
Sesampainya
di kamar, ia langsung menelepon polisi.
Polisi
datang beberapa saat kemudian, walaupun laporan pria itu tampak gila. Mereka
memeriksa kamar di bawah kamar pria itu dan menemukan sesuatu yang mengerikan.
Tubuh
wanita dan kedua anaknya itu ditemukan di bak kamar mandi.
Kepala
mereka terpenggal.
Mereka
juga menemukan suami wanita itu bersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia
mengatakan bahwa ia sudah memenggal kepala istri dan anak-anaknya dengan
gergaji. Namun ia bersumpah istri dan kedua anak-anaknya masih hidup.
Polisi
berkesimpulan pria itu menjadi gila dan membunuh keluarganya.
Namun
polisi menemukan ada sesuatu yang aneh di kamar itu.
Di
meja dapur tergeletak sebuah kotak pizza.
Ketika
dibuka, isinya sudah tidak utuh lagi.
Ada
bekas gigitan-gigitan kecil di pizza itu, seolah-olah ada anak-anak kecil yang
memakannya.
11. The Vault Room (Amerika)
Cerita menakutkan ini terjadi pada seorang pemuda yang
terjebak di dalam sebuah ruang bawah tanah penuh jenazah dalam peti mati. Apa
yang akan terjadi pada pemuda itu?
“THE VAULT
ROOM”
(RUANG BAWAH
TANAH)
Seorang
pemuda menerima pekerjaan sebagai pengurus makam. Ini sebenarnya bukan jenis
pekerjaan yang ia inginkan. Namun apa boleh buat, ia sangat membutuhkan uang
dan hanya pekerjaan ini yang berhasil ia dapatkan dalam waktu singkat.
Pemuda
itu sangat takut pada mayat, namun untunglah pekerjaannya hanyalah
pekerjaan-pekerjaan ringan. Tugasnya hanyalah menyapu, memotong rumput, dan
membersihkan makam. Sedangkan tugas-tugas yang berhubungan dengan mayat seperti
menyiapkan jenazah dan prosesi pemakaman adalah tugas para pengurus makam yang
lebih senior.
Namun
ada satu hal yang dibenci oleh pemuda itu. Ia memang tak perlu melihat mayat
secara langsung saat bekerja. Namun ada kalanya ia bekerja di ruangan bawah
tanah tempat pet-peti mati berisi jenazah disimpan. Di negara Barat,
orang-orang kaya biasanya membuat sebuah ruangan bawah tanah dimana peti-peti
mati mereka dan keluarga mereka diletakkan, bukan dikubur seperti orang biasa.
Pemuda
itu sangat membenci ruang bawah tanah, sebab uangan itu gelap, berdebu, dan penuh
mayat.
Suatu
hari, pemuda itu ditugasi untuk membersihkan sebuah ruang bawah tanah. Dengan
berat hati ia melakukan tugasnya itu.
Saat
ia sedang membersihkan papan-papan nama yang ada di ruangan itu, angin kencang
bertiup dan menutup pintu kamar bawah tanah itu. Pemuda itu langsung panik dan
berusaha membukanya, namun percuma.
Ia
terkunci di ruangan penuh mayat itu.
Pemuda
itu mencoba berteriak, namun tak ada yang mendengar teriakannya. Pemuda itu
lalu mencoba menenangkan dirinya dan melihat sebuah jendela di atas ruangan.
Cahaya
matahari menembus jendela itu dengan enggan. Berarti ia bisa merangkak keluar
lewat jendela itu. Masalahnya, jendela itu letaknya sangat tinggi. Ia tak
mungkin dapat mencapainya.
Ia
melihat ke sekeliling ruangan.
Yang
ada di situ hanyalah peti-peti mati.
Pemuda
itu mendapatkan akal.
Bila
ia menumpuk peti-peti itu, ia dapat membuat semacam tangga yang dapat
digunakannya untuk mencapai jendela itu. Ia lalu mencoba mengalahkan
ketakutannya dan mulai memindahkan peti-peti mati itu.
Di
luar dugaannya, peti-peti itu ternyata ringan. Mungkin karena mayat di dalamnya
sudah lama membusuk dan meninggalkan tulang belulang saja.
Ia
berhasil menumpuk beberapa peti mati dan mulai naik.
“Ouch!”
teriak pemuda itu lirih. Ia merasakan sakit di tumitnya. Ia menduga kayu dari
peti mati itu yang menggoresnya.
“Ouch!”
rasa perih itu kembali lagi. Namun ia terus melanjutkan mendaki peti-peti mati
itu, meskipun nyeri itu terus terasa.
Akhirnya
ia berhasil mencapai jendela itu dan merangkak keluar.
Pemuda
itu berjalan kepincangan dan akhirnya bertemu dengan penjaga makam yang
merupakan bosnya.
“Apa
yang terjadi padamu?” tanya bosnya keheranan.
Pemuda
itupun menceritakan segalanya.
“Lalu
kenapa kau berjalan terpincang seperti itu?”
“Tadi
kaki saya tergores kayu dari peti mati.”
“Mana,
coba aku periksa.”
Pemuda
itu duduk di atas sebuah batu nisan dan bosnya kemudian memeriksa tumit pemuda
itu.
Penjaga
makam itu lalu menatap pemuda itu dengan wajah pucat.
“Tapi
ini bukan luka goresan kayu, Nak.”
“Lalu
apa?”
“Ini
bekas gigitan manusia ...”
12. Teke-Teke (Jepang)
Dua masinis yang menjalankan kereta di malam bersalju
menemukan sesuatu yang sangat mengerikan.
“TEKE TEKE”
Kisah
ini terjadi di Jepang. Alkisah di tengah salju yang tengah turun, dua orang
masinis menjalankan sebuah lokomotif ke stasiun kereta terdekat. Saat mereka
tiba di bawah suatu jembatan di daerah yang cukup terpencil, tiba-tiba saja ...
“Braaak
...”
“Kreeek...”
Dua
masinis itu melihat sesosok bayangan jatuh tepat di depan mereka. Kedua masinis
ini cukup berpengalaman untuk merasakan bahwa kereta yang mereka kendalikan
telah menggilas sesuatu.
Sang
masinis berusaha keras menghentikan keretanya dan lokomotif itu berhenti
kira-kira beberapa ratus meter dari tempat kejadian.
Salah
satu masinis memutuskan turun untuk memastikan apa yang telah terjadi. Ia
berjalan susah payah di atas gumpalan salju dan tepat di bawah jembatan yang
tadi mereka lewati, ia menemukan sesuatu yang mengerikan.
Terdapat
tubuh seorang wanita di tengah rel.
Tubuhnya
terpotong menjadi dua karena terlindas kereta.
Satu
bagian adalah bagian atas tubuh wanita itu, mulai dari hingga ke pinggang.
Bagian satunya adalah bagian pinggang hingga kaki wanita itu.
Ia
tak bisa melihat wajah wanita itu karena wajahnya tertutup oleh rambut hitam
panjangnya. Darah wanita itu membasahi salju yang berada di bawahnya.
Warna
merah itu mengingatkan masinis itu akan es serut dengan sirup merah yang biasa
ia makan saat kecil.
Sang
masinis buru-buru menghapus pikiran mengerikan itu dan segera kembali pada
temannya.
“Ada
apa?” tanya sang masinis satunya saat melihat temannya kembali.
“Ada...ada
wanita tertabrak. Kondisinya sangat mengerikan. Kemungkinan ia melompat dari
atas jembatan. Aku akan memanggil bantuan ke pos polisi terdekat. Kau tetap di
sini ya?”
Pada
zaman itu, komunikasi belumlah secanggih sekarang. Apalagi saat itu cuaca
sedang buruk.
Sang
masinis tadi akhirnya meninggalkan temannya untuk mencari bantuan.
Sang
masinis satunya dengan sabar menunggu di dalam lokomotif. Ia tahu tak ada
jadwal kereta melewati daerah itu, jadi ia tenang saja meletakkan lokomotifnya
di situ. Selain itu, lokasi ini amat terpencil. Bahkan tak ada satupun rumah di
sana.
Hujan
salju telah berhenti, meninggalkan tumpukan salju yang tebal di luar. Hanya ada
lampu-lampu jalan dari tiang listrik yang menemani lokomotif itu di tengah
kegelapan malam.
Beberapa
saat berlalu dan sang masinis mulai mendengar suara di luar lokomotif.
“Sreeeek...sreeeek...”
Terdengar
seperti suara sesuatu tengah diseret.
“Soichi?’
masinis itu memanggil nama temannya tadi. Namun mana mungkin ia kembali secepat
itu.
Masinis
itu mendekat pintu.
“Halo,
ada orang di situ?”
Tiba-tiba
pintu lokomotif terbuka,
“Braaaaaak!!!”
Diikuti
jeritan masinis itu di tengah kegelapan malam.
***
Beberapa
jam kemudian barulah sang masinis kembali bersama sejumlah polisi. Mereka harus
melewati jalanan yang penuh dengan tumpukan salju sehingga perlu waktu lama
untuk kembali.
Namun
begitu sampai di TKP, masinis itu ngeri melihat hanya satu bagian tubuh saja
yang terlihat di situ.
Hanya
ada bagian bawah wanita itu, sementara bagian atasnya lenyap.
Masih
ada ceceran darah di situ dan bekas seretan.
Apa
ada yang memindahkan tubuh wanita itu, pikir sang masinis. Namun mana mungkin?
Apa tujuannya?
Sang
masinis dan para polisi pun menuju lokomotif yang ia tinggalkan tadi.
“Sato!”
panggil sang masinis.
Ia
heran melihat pintu lokomotif terbuka.
Ia
masuk dan tak melihat siapapun di dalam lokomotif, hanya ada tumpukan salju
yang masuk melalui pintu yang terbuka.
Masinis
itu sangat sangat heran. Temannya adalah orang yang sangat bertanggung jawab.
Mana mungkin ia meninggalkan lokomotif ini begitu saja saat ia diminta
menjaganya?
Soichi
dan polisi lainnya mencari-cari sang masinis satunya. Namun sepertinya ia
seperti lenyap ditelan malam.
Tak
ada jejak di tanah. Semua jejak sudah tertimbun oleh salju yang kembali turun.
Beberapa
jam mereka mencari namun tak ada hasil.
Saat
sang masinis mulai putus asa, ia mendongak ke atas.
Napasnya
seakan terhenti.
Dengan
ketakutan ia menunjuk ke atas. Para polisi pun ikut memandang ke atas.
Mereka
semua ketakutan melihat pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Bahkan
pengalaman para polisi itu selama puluhan tahun menangani kasus kejahatan
seperti tak ada apa-apanya. Mereka belum pernah melihat sesuatu semengerikan
ini.
Di
atas tiang listrik, tubuh sang masinis sudah kaku karena membeku.
Wajahnya
tampak ketakutan setengah mati. Entah apa yang telah membunuhnya, suhu yang di
bawah nol ataukah rasa takutnya.
Sementara
di pinggang sang masinis melingkar bagian tubuh wanita yang tertabrak itu.
Bagian
pinggang ke atas, memeluk erat sang masinis yang telah tewas.
13. Square (Jepang)
Empat orang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat dan
berlindung di sebuah pondok di pegunungan bersalju. Untuk bertahan hidup,
mereka melakukan suatu permainan. Mereka tak tahu ada yang ikut bermain bersama
mereka.
“SQUARE”
(SEGI EMPAT)
Alkisah, lima orang pendaki gunung tersesat di tengah pegunungan bersalju (versi lain cerita mengatakan mereka merupakan korban selamat dari suatu kecelakaan pesawat). Karena tidak kuat, salah satu dari kelima pendaki itu akhirnya meninggal. Namun keempat temannya yang lain menolak meninggalkan jenazah teman mereka di tengah gunung dan memutuskan membawanya.
Hingga suatu saat di tengah badai salju, mereka menemukan sebuah pondok kayu.
Mereka bersyukur dan segera berlindung di dalam pondok kayu itu. Pondok itu berbentuk segiempat. Pondok itu tampak sudah tua, namun masih kokoh.
Celakanya, sama sekali tak ada penerangan di dalam pondok itu, sehingga mereka terpaksa menghabiskan malam dalam kondisi gelap gulita.
Mereka meletakkan jenazah teman mereka di tengah ruangan yang berbentuk segi empat itu.
Mereka mulai bercakap-cakap.
“Malam ini kita tidak boleh tidur. Bila kita tidur, bisa-bisa kita tidak bangun lagi.”
“Ya, aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Bila kita tidak melakukan sesuatu, kita pasti akan tertidur.”
“Aku tahu, kita lakukan saja suatu permainan.” Usul salah satu teman mereka, masih dalam kondisi gelap gulita. Mereka sama sekali tak bisa melihat satu sama lain, jadi mereka tak tahu dengan siapa mereka berbicara dan siapa yang mengusulkan permainan itu.
“Permainan apa?”
“Begini, ruangan ini kan berbentuk kotak. Bagaimana jika masing-masing dari kita berempat berdiri di tiap pojok ruangan. Nah, saat permainan dimulai, salah satu dari kita berlari ke pojok ruangan terdekat dan menepuk punggung temannya yang ada di situ. Lalu ia yang ditepuk punggungnya harus berlari lagi untuk menepuk punggung temannya yang ada di pojok terdekat dengannya. Begitu terus hingga kembali ke orang pertama dan diteruskan sampai fajar tiba.”
“Itu ide bagus,” semua orang tampaknya setuju, “Dengan begitu kita akan bergerak semalaman dan tubuh kita akan terasa hangat.”
Akhirnya mereka melakukan permainan itu. Masing-masing dari mereka, sebut saja A, B, C, dan D berdiri di pojok ruangan. A mulai berlari ke B dan menepuk pundak B. B kemudian langsung berlari dan menepuk pundak C. C lalu berlari menepuk pundak D. Dan begitu seterusnya, mereka melakukan permainan itu hingga pagi.
Saat pagi tiba, mereka mulai merasa lega. Cahaya mulai menerangi seluruh ruangan sehingga mereka bisa melihat seisi ruangan. Salah satu teman mereka rupanya mengenali tempat ini dan tahu jalan keluar dari tempat itu.
Namun saat mereka menyadari bentuk ruangan yang mereka tempati sejak semalam, mereka mulai sadar ada yang tidak benar.
Lalu mereka mulai ketakutan.
Permainan itu ternyata tak sesimpel yang mereka duga.
Permainan dimulai ketika A berlari dan menepuk pundak B. B kemudian berlari menepuk pundak C. Lalu C berlari menepuk pundak D. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika D berlari ke A, semestinya tak ada orang di sana, sebab A sudah berada di B. Benar bukan? Sehingga D harus berlari 2 kali agar dapat menepuk pundak A.
Namun saat mereka bermain, tak ada seorang pesertapun yang harus berlari dua kali.
Saat tiba di A, D menepuk pundak seseorang yang kemudian berlari menepuk pundak A yang sedang berada di B.
Merekapun sadar, permainan ini walaupun dilakukan di ruangan berbentuk segi empat, tak bisa dilakukan oleh empat orang.
Permainan ini harus dilakukan oleh lima orang.
Namun mereka hanya ada berempat saat mereka melakukan permainan itu.
Lalu mereka menatap jenazah teman mereka yang terbujur kaku di tengah ruangan.
Ya, mereka tak hanya berempat di dalam ruangan.
Mereka berlima.
14. Um-Ma (Korea)
Urban legend ini sangat singkat, namun akan
menghantuimu ...
“UM-MA”
(IBU)
Kisah ini adalah urban legend yang
sangat terkenal di Korea (“Um-ma” adalah panggilan anak kepada ibunya di
Korea).
Seorang anak memanggil ibunya
berkali-kali. Namun sang ibu sama sekali tak merespon panggilan anaknya.
“Um-ma...um-maaaaaaaaaaaaaaaaaa......!!!”
Sang ibu akhirnya menoleh pada anak
itu.
“Um-ma....kupanggil ribuan kali kenapa
um-ma tidak menjawab?”
Namun ibu itu hanya menyeringai dan
menjawab.
“Apa aku mirip dengan ibumu?”
15. 10 Days Dream (asal tak diketahui)
Please don’t read this! Tolong jangan baca halaman ini
sebab ceritanya mengandung kutukan. Admin sama sekali tak bertanggung jawab
jika kamu membacanya.
Sebelumnya, aku peringatkan dulu bahwa urban legend
ini sangatlah disturbing. Buat yang tidak berani membacanya, sebaiknya segera
tinggalkan halaman ini.
Jangan sampai kalian menyesal setelah membacanya.
Aku berikan kesempatan untuk meninggalkan halaman ini.
Jika kalian masih nekad, silakan tanggung sendiri akibatnya.
……..
.……..
.……..
.……..
.……..
.……..
“10 DAYS DREAM”
“MIMPI SEPULUH
HARI”
Kesepuluh mimpi itu dan aturannya adalah sebagai berikut.
MIMPI HARI PERTAMA:
Anda sedang bermimpi tengah tidur di dalam kamar anda. Anda kemudian akan
menyadari ada seorang anak perempuan yang mengintip melalui jendela kamar anda.
Peraturan:
biarkan anak perempuan itu masuk.
biarkan anak perempuan itu masuk.
MIMPI HARI KEDUA:
Anak itu sekarang ada di dalam kamar anda. Ia terus menunduk sehingga anda
tak bisa melihat wajahnya. Ia terus menggumam dan beberapa saat kemudian anda
akan menyadari bahwa ia terus mengatakan, “Kumohon jangan ... kumohon jangan
...”
Peraturan:
Biarkan gadis itu naik ke tempat tidur dan berbaring di samping anda.
MIMPI HARI KETIGA
Anak itu sekarang berbaring di samping anda. Anda akan dapat melihat wajah
anak itu hancur karena terbakar hebat.
Peraturan:
Apapun yang terjadi, jangan menangis atau menjerit saat melihat wajahnya.
MIMPI HARI KEEMPAT
Kau bangun dari tempat tidur. Gadis itu berkata, “Ayo pergi ke taman.”
Peraturan:
Bawa dia ke taman terdekat tanpa mengatakan sesuatu apapun.
MIMPI HARI KELIMA
Di taman, anda akan melihat seorang wanita mendorong kereta bayi.
Perhatikan baik-baik dan anda akan melihat bahwa ibunya adalah seekor kucing
dan bayinya adalah seekor anjing.
Peraturan:
Kau harus membunuh salah satu dari mereka.
MIMPI HARI KEENAM
Saat anda tengah bermain di taman bersama gadis itu, anda akan melihat
sebuah pesawat hendak lepas landas.
Peraturan:
Pastikan anda naik pesawat itu tepat waktu.
MIMPI HARI KETUJUH
Pesawat akan penuh dengan orang-orang yang seperti anda, telah mendengar
cerita ini.
Peraturan:
Apapun yang terjadi, anda harus mendapatkan tempat duduk.
MIMPI HARI KEDELAPAN
Setelah beberapa saat, akan turun hujan mawar merah dan mawar hitam dari
atas.
Peraturan:
Buang hanya mawar hitam dari atas pesawat.
MIMPI HARI KESEMBILAN:
Pesawat itu akan membawa anda kembali ke taman.
Peraturan:
Pulang bersama gadis itu dan kembali berbaring dengannya di kamar.
MIMPI HARI KESEPULUH:
Anda takkan tahu apa yang akan terjadi pada mimpi hari kesepuluh kecuali
anda telah melakukan semua yang diharuskan pada kesembilan mimpi sebelumnya.
Peringatan: setelah membacanya, anda tak bisa membatalkannya. Anda akan memimpikan 10 mimpi ini 3 hari setelah anda membacanya. Jika anda sudah telanjur membacanya, anda harus mengikuti semua aturan dalam tiap mimpi untuk menyelesaikannya. Jika tidak, mimpi-mimpi ini akan terus terulang seumur hidup anda.
Ingat, anda harus menceritakan tentang cerita mimpi ini kepada orang lain, jika tidak anda akan kembali ke mimpi pertama dan mengulanginya dari awal.
Selamat bermimpi.
kamar gua gaada jendelanya, gimana dong?
BalasHapusAku gak punya kamar pulak wkwk
Hapusbagus deh itu gan wkwkwk
HapusSeneng banget nih ada koleksi baru urban legend. Bisa dong kasih referensi tempat2 baca urban legend kaya gini. Pasti banyak kan, ceritanya aja serem serem gtu, bikin merinding~~
BalasHapusmengakubackpacker gan blognya keren deh, banyak pula
Hapusurban legend yang ke15 ( 10 days dream) seperti hipnotis, pengaruh yang masuk ke bawah alam sadar kita.
BalasHapuskita sendiri yang menerima hal tersebut.
sehingga hal tersebut terus tersimpan di memory kita dan ikut terbawa ke dalam mimpi.
ini hanya pendapat saya.
nah tepat sekali gan tepat anda, emang seperti itu kerjanya melalui alam bawah sadar yang bisa disebut hipnotis
HapusYg terakhir mksudnya apa? Malah parno sendiri
BalasHapus