INDONESIA, AYO BERKACA KEPADA VIETNAM DALAM UPAYA MEMERANGI COVID-19 JIKA INGIN BERHASIL!
Sedikit kilas balik dimana saat Covid-19 muncul untuk pertama kalinya pada penghujung tahun 2019 tepatnya di Tiongkok. Hal itu tentunya membuat respon dari negara-negara di dunia yang beragam, ada yang meresponnya dengan cenderung lebih membuat pernyataan bahwa Covid-19 merupakan pandemi yang serius dan harus ditangani dengan semaksimal mungkin, lalu ada juga negara yang saat mendengar isu tersebut pertama kali meresponnya dengan sikap elegan dengan menyatakan bahwa Covid-19 bukan merupakan pandemi yang serius dan dengan sebuah keyakinann bahwa Covid-19 tersebut sulit masuk ke negaranya, iya seperti Indonesia. Lalu apa realitanya di hari ini? Per 29 Mei 2020, kasus pasien terkonfirmasi Covid-19 sudah mencapai 5,9 juta jiwa dari seluruh mnegara yang ada di dunia dan sekitar 362 ribu jiwa meninggal dunia.[1]
Banyak negara yang penduduknya
menjadi korban terbanyak dari pandemi ini. Negara-negara maju seperti Amerika
Serikat, Inggris, Spanyol, Italia dan Jerman merupakan negara-negara yang
memiliki korban terbanyak di dunia per bulan Mei 2020 ini.[2]
Padahal secara logika negara maju memiliki infrastruktur yang lebih memadai
dibandingkan dari negara berkembang seperti fasilitas kesehatannya, ditambah
lagi negara maju indentik dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang lebih
tinggi yang dalam hal ini dapat berdampak baik dengan kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah karena masyarakat bisa mentaati dan lebih tertib
dengan karena memiliki pola pikir yang lebih maju.
Beralih ke Asia khususnya Asia
Tenggara, ada salah satu negara yang seharusnya menjadi roll model bagi negara di Asia bahkan dunia dengan upaya yang
dilakukan dalam memerangi Covid-19. Per 29 Mei 2020 korban jiwa yang
terkonfirmasi Covid-19 di Vietnam adalah 327 orang dengan tidak ada yang
meninggal dunia.[3]
Hal ini perlu diapresiasi karena jika dilihat dari kondisi geografisnya Vietnam
sangat dekat jaraknya dengan Tiongkok yang merupakan negara pertama yang
penduduknya terkonfirmasi Covid-19. Vietnam menggunakan upaya taktis yang
tersistematis sehingga bisa meminimalisir penyebaran Covid-19, lantas upaya apa
saja yang dilakukan oleh pemerintah Vietnam untuk mencapainya?
Mengantisipasi dengan Responsif saat Awal Penyebaran
Seperti yang saya katakan diatas
bahwa terdapat dua sifat negara dalam menyikapi isu Covid-19, ada yang acuh dan
ada juga yang sangat responsif. Vietnam disini termasuk dalam golongan negara
yang responsif ketika mendengan isu Covid-19. Melihat potensi penyebaran yang
sangat cepat karena Tiongkok dan Vietnam yang sangat dekat maka seluruh elemen
dalam negara ini langsung responsif dan serius untuk menghadapi Covid-19 ini.
Hal ini dilakukan agar dapat meminimalisir penyebaran Covid-19 di negara
Vietnam.
Keseriusan Vietnam dalam memerangi
virus ini dilihat saat Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc
mengintruksikan seluruh komponen negaranya untuk satu visi menyatakan perang
dengan Covid-19.[4]
Vietnam tidak melihat Covid-19 sebagai virus, melainkan sebagai musuh nyata
yang dapat mengakibatkan keburukan dalam segala sektor di negara ini. Istilah
‘perang’ bagi Vietnam bukan hanya kepada musuh yang secara fisik terlihat saja,
tetapi juga kepada musuh yang tidak terlihat seperti Covid-19. Dengan kesatuan
visi dari setiap elemen-elemen di negara ini, maka berimplikasi kepada upaya
yang dilakukan oleh pemerintah akan membuahkan hasil yang positif.
Bukan Lockdown, melainkan Karantina
Mungkin apabila secara sekilas
karantina dan lockdown dapat
dikatakan mirip, tetapi secara terminologinya berbeda. Karantina merupakan
pembatasan kegiatan msyarakat yang dilakukan dengan skala per wilayah,
sedangkan lockdown merupakan
pembatasan kegiatan masyarakat yang dilakukan di rumah. Dalam arti lain
karantina masih memperbolehkan masyarakatnya keluar rumah, asalkan tidak keluar
wilayah yang sudah ditentukan. Setiap negara mempunyai kondisi terhadap pandemi
Covid-19 yang berbeda-beda, dalam hal ini Vietnam melakukan karantina yang
dianggap merupakan hal yang efektif dalam meminimalisir Covid-19.
Saat mendengar isu adanya Covid-19
dari negara tetangga yaitu Tiongkok, Vietnam langsung bergerak dengan taktis
dalam merespon hal tersebut. Suatu kondisi dimana ketika korban Covid-19 di
negara-negara asia masih sedikit yaitu sekitar sekitar 10 orang dan negara lain
masih acuh terhadap Covid-19 ini, Vietnam justru bergerak cepat dengan
melakukan karantina sejak 12 Februari 2020. Vietnam termasuk kedalam negara
berkembang yang mempunyai kekurangan dalam fasilitas kesehatan. Hal ini
dipaparkan oleh Walikota Ho Chi Minh, Nguyen Tanh Pong bahwa kotanya yang
memiliki populasi sebanyak 8 juta orang, hanya memiliki fasilitas kesehatan atau
intensive care bed sebanyak 900
pasien.[5] Melihat
terdapat lobang yang menjadi kelemahan negara ini, maka pencegahan yang lain
harus diintensifkan yaitu karantina. Istilah contact tracing juga diberlakukan untuk mendukung kebijakan
karantina ini, hal ini dilakukan bukan hanya dengan orang yang terkonfirmasi
Covid-19 saja melainkan dengan semua orang yang memiliki potensi tertular.
Pengawasan yang Masif dan Menyeluruh
Dengan
adanya deklarasi Perdana Menteri Vietnam untuk memerangi Covid-19, maka
meskipun Vietnam mempunyai kelemahan dalam fasilitas kesehatan; Pemerintah
Vietnam tetap mencari problem solving
untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 dengan memperkuat keamanan dan
pengawasan. Metode keamanan dan pengawasan yang berskala nasional dianggap
upaya yang efektif. Tentu saja kebijakan ini tidak akan berjalan dengan baik
tanpa adanya sinergitas masyarakat yang menjadi objek dari kebijakan ini.
Kementrian Kesehatan Vietnam melakukan pengawasan yang ketat terhadap aktivitas
masuk warga negara Vietnam yang baru berpergian dari negara lain. Telah
disediakan hotline/call center agar
masyarakat Vietnam yang telah berpergian ini diwajibkan untuk langsung
menghubungi hotline/call center tersebut,
agar proses pengawasan lebih mudah karena adanya pemetaan.
Kedisiplinan Masyarakat
Dari
banyaknya faktor, hal inilah yang paling vital atau kunci kenapa pencegahan
penyebaran Covid-19 bisa dikatakan berhasil. Paham komunisme di Vietnam
menjadikan masyarakatnya mudah dikendalikan sehingga terbentuk kesamaan visi
seluruh elemen di Vietnam yang menjadikan tindakan mereka akan selaras dengan
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Vietnam. Masyarakat Vietnam
mempunyai kesadaran yang tinggi bahwa segala tindakan yang mereka lakukan
pastinya akan menimbulkan konsekuensi. Sinergitas antara masyarakat dan
pemerintah akan memudahkan goals
utama dari segala upaya yang telah dilakukan untuk meminimalisir penyebaran
Covid-19. Egoisme masing-masing setiap masyarakat Vietnam sudah dihilangkan,
hal yang menjadi prioritas adalah bagaimana mereka bersama-sama memerangi
Covid-19 dan cara yang terbaik adalah pembagian peran. Pemerintah berusaha
membuat kebijakan agar Covid-19 tidak menyebar luas dan masyarakat berperan
untuk mengikuti kebijakan tersebut yang tujuannya sama yaitu agar tidak
Covid-19 tidak menyebar luas juga. Usaha ini membuahkan hasil dengan melihat
bahwa negara Vietnam memiliki jumlah orang yang terkonfirmasi paling sedikit di
Asia Tenggara dengan jumlah kematian 0.
Bagaimana Indonesia?
Kontekstualisasinya di Indonesia, seharusnya
upaya yang dilakukan di Indonesia bisa merujuk kepada apa yang dilakukan oleh
Vietnam. Memang setiap variabel kemungkinan setiap negara berbeda-beda, tetapi
setidaknya Indonesia bisa melihat beberapa point yang menjadi kunci kesuksesan
Vietnam dalam memerangi Covid-19. Sinergitas antara masyarakat dengan
pemerintah merupakan faktor penting dalam upaya memerangi Covid-19. Jika
pemerintah sudah bergerak sistematis dan taktis dalam membuat kebijakan, tetapi
jika masyarakatnya tidak ada keselarasan maka kebijakan tersebut sia-sia. Oleh
karena itu, peran pemerintah adalah bagaimana caranya mereka membuat kesatuan
visi dan tujuan agar mengubah pola pikir masyarakatnya menjadi disiplin.
Biodata
Penulis
Esa Mohamad Farouq Rahmat. Lahir di
Tasikmalaya pada tanggal 23 Mei 1999 dimana
pada tanggal yang sama tetapi tahun yang berbeda lahir pula suatu
entitas yang mempunyai peran penting dalam sejarah Indonesia, yaitu Partai
Komunis Indonesia (PKI). Namun meskipun demikian saya bukanlahlah komunis,
melainkan individu Pancasilais yang berusaha mengimplementasikan setiap
butir-butirnya. Saat ini masih menjadi mahasiswa menuju akhir di Program
Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Brawijaya.
[4]
Tim detikcom, 2020, “Kebijakan Lockdown
Dipertanyakan Jokowi, Vietnam Beri Bukti”, diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4987775/kebijakan-lockdown-dipertanyakan-jokowi-vietnam-beri-bukti/2
[5] Zainul Muhammad, 2020, “Cara Vietnam Atasi Covid-19 Hingga Nol Kematian”, diakses dari https://beritabaru.co/cara-vietnam-atasi-covid-19-hingga-nol-kematian/
[5] Zainul Muhammad, 2020, “Cara Vietnam Atasi Covid-19 Hingga Nol Kematian”, diakses dari https://beritabaru.co/cara-vietnam-atasi-covid-19-hingga-nol-kematian/

Komentar
Posting Komentar