JALAN BERLIKU DESA DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN
Desa sudah menjadi bagian dari kita, yang mana memang jika kita dibesarkan di desa ataupun masih memiliki keluarga yang ada di desa, terutama bagi mereka yang memiliki hubungan darah dengan orang desa yang berasal dari ayah ataupun ibu. Desa menjadi sebuah komoditas yang begitu diperhatikan akhir-akhir ini, walaupun memang pada kenyataannya masih banyak saja desa-desa yang termasuk kategori tertinggal. Mungkin saja memang pada dasarnya, pemerintah membentuk dana desa untuk memajukan kesejahteraan warga desa yang secara sekilas terlihat sumber daya manusianya masih kurang ataupun jika dilihat dari pembangunannya memang kadang masih terlihat tertinggal. Banyak sekali kebijakan-kebijakan pemerintah pusat untuk meningkatkan dan memajukan desa dengan salah satunya adalah dana desa yang mana memang masuk dalam RAPBN/RAPBD setiap tahunnya. Dengan demikian nampak jelas sekali bahwa pemerintah peduli akan desa dan dengan keterbelakangannya.
Tatkala waktu kian berlalu, beberapa desa kini
bertransformasi menjadi sorotan masyarakat luas. Dengan banyaknya
perubahan-perubahan yang signifikan tentang desa yang selalu dipandang sebelah
mata oleh kebanyakan masyarakat kota, kini desa juga kadang menjadi destinasi
beberapa orang kota untuk melepas hiruk-pikuknya kota. Dengan keasrian desa
menjadi keunikan tersendiri bagi orang-orang yang berada disana. Desa terkadang
juga dijadikan komoditas politik para elit ditingkat kabupaten/kota. Dengan
kebijakan-kebijakannya yang mana mengandung untuk memajukan desa-desa yang
notabenenya tertinggal. Mereka seolah-olah peduli dengan kehidupan masyarakat
desa yang terkadang mempunyai perekonomian yang terbatas atau bahkan sulit.
Maraknya janji-janji politik yang disembahkan untuk warga desa yang mengingat
bahwasanya mereka apatis terhadap politik, dengan menjunjung tinggi politik
uang yang diberikan oleh calon-calon pejabat untuk meraih suara warga desa.
Penulis bukannya tidak setuju dengan pengembangan
warga desa yang mana mereka juga memiliki hak untuk lebih sejahtera. Tetapi
kini banyak sekali mereka tidak sadar, bahwasanya mengembangkan tidak selalu
dengan memberikan yang instan-instan, termasuk dengan cara memberi uang untuk
makan siang, setelah itu mereka lupa bahwa makan tidak hanya di siang hari.
Masyarakat desa harus juga mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar mereka
memiliki daya saing yang lebih ketika mereka dihadapkan dalam pertarungan
sumber daya manusia. Seringkali, para politisi atau calon pejabat hanya
mementingkan bagaimana caranya mereka menang dalam pertarungan politiknya,
setelah menang hanya sedikit kebijakan publik mereka memperdulikan masyarakat
desa yang dulu telah memilihnya. Maka dari itu, pengembangan masyarakat desa
harus lebih ditingkatkan lagi, tidak masalah mereka membagikan uang untuk makan
siang warga desa, tetapi setelah itu harus ada program yang mana untuk
memberdayakan masyarakat desa agar mereka dapat mandiri dalam hal ekonomi dan
pendidikan.
Mungkin saja sudah banyak kebijakan oleh pemerintah
pusat yang mana mereka memang ingin memberdayakan masyarakat desa lewat dana
desanya. Kini tinggal bagaimana dana tersebut mampu dan benar-benar
dialokasikan atau digunakan semestinya dan dengan baik. Mereka harus melihat
apa yang dibutuhkan oleh masyarakat desa, jika mereka tertinggal dalam hal
ekonomi maka dibuatlah program-program yang dapat menunjang kemandirian ekonomi
masyarakatnya. Lalu jika mereka rendah dipendidikan, maka salurkan dana
tersebut untuk meningkatkan pendidikan mereka. Dengan begitu sangatlah terukur
apa yang mereka inginkan. Selain itu banyak sekali pejabat oportunis yang lebih
mementingkan dirinya ketimbang masyarakat yang sudah memilihnya. Tetapi sekali
lagi harus ditekankan bahwasanya pejabat publik harus diberikan revolusi mental
agar mereka mengerti betul bahwasanya demokrasi memang mahal, tetapi demokrasi
tidak menimbulkan demagog yang mana mereka hanya membangkitkan emosional
masyarakat, tetapi demokrasi harus membangkitkan pedagogis atau
didikan-didikannya agar mereka tidak melulu digalang untuk kepentingan
politiknya. Selain itu masyarakat desa harus juga diberikan pendidikan yang
bermutu agar mereka tidak melulu dibeli suaranya dengan uang. Ketika
pendidikannya sudah dapat diapplikasikan, maka bahwasanya mereka sudah dapat
mandiri untuk memperbaiki perekonomiannya. Mungkin dengan ekonomi kreatif, dan
juga BUMDes yang mana sempat penulis singgung dalam pembentukan BUMDes. BUMDes
juga menjadi salah satu lahan untuk mereka para industri rumahan yang juga
dapat dijadikan tempat saluran barang produksinya, agar masyarakat desa tidak
melulu khas dengan bertani yang mana pemerintah kini lebih mengutamakan impor,
impor dan impor. Jadi mereka semacam memiliki alternatif ketika mereka tidak
lagi dipedulikan oleh pemangku kekuasaan.

Komentar
Posting Komentar