MENJAGA EKSISTENSI SPIRIT DESA DI TENGAH TERPAAN FATAMORGANA ARUS GLOBALISASI
Di era yang menasbihkan diri sebagai masa milenial ini memang memudahkan semua manusia untuk menambah wawasan pengetahuan bahkan meningkatkan kualitas mereka dengan efisien. Hal tersebut memang dapat dikatakan benar, dikarenakan memang di masa ini, akses untuk menuju ke arah perubahan merupakan hal yang sangat mudah, cepat, dan murah. Semua itu tidak terlepas dari apa yang dinamakan arus globalisasi, sebuah arus yang menghadirkan inovasi dan kreasi baru di segala bidang yang dikemas dengan balutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, hingga kemudian menghadirkan suatu fase di mana segala akses dapat dijangkau oleh semua pihak, tentunya yang bersifat menambah wawasan pengetahuan dan peningkatan kualitas tiap individu. Dari masa ke masa, hingga merambah era ini, arus globalisasi ini telah berubah menjadi tsunami globalisasi, yaitu sebuah simile bahwasanya di era sekarang ini kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi semakin meluap bak air bah yang siap menerjang pemukiman beserta warganya apabila tidak siap dalam menghadapi arus globalisasi ini. Tsunami globalisasi ini menerjang di segala bidang, tidak pandang bulu, akan sangat menguntungkan bagi pihak yang siaga dan memanfaatkan situasinya, tetapi beberapa pihak lain yang tidak siaga dalam penanggulangannya akan hanyut terbawa arus yang menuju pada hilir Individualisme dan Konsumerisme.
Dewasa ini, ruang lingkup desa di Nusantara juga
mengalami terjangan tsunami yang mengatasnamakan globalisasi. Sebagian besar
desa pada masa kini seolah kehilangan ruh dan spiritnya, bagaimana mereka
lahir, tumbuh, dan berkembang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya masyarakat
awam khususnya warga desa sendiri yang lebih tertarik dengan fatamorgana godaan
duniawi yang dikemas dengan cantik dengan wujud inovasi dan kreasi globalisasi.
Memang wacana yang coba diimplementasikan oleh pembaruan ilmu pengetahuan dan
teknologi ini berdampak positif apabila mekanisme dilakukan dengan teliti dan
bertanggung jawab. Akan tetapi, masyarakat desa kini seolah menjadi makhluk
yang mengejar gengsi demi pamor dan mementingkan diri sendiri berkenaan dengan
pemenuhan kebutuhan, meninggalkan budaya desa yang selama ini dibanggakan,
kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi. Masalah yang dihadapi desa sekarang
bukan sekedar Primordialisme dan Ethnosentrisme, tetapi permasalahan yang lebih
sentimentil berkaitan dengan Individualisme dan Konsumerisme sebagai
konsekuensi negatif terselenggaranya ketelanjangan dunia berasaskan efisiensi
akses pengetahuan dan teknologi.
Menindaklanjuti permasalahan desa tersebut, akan sangat
tak etis apabila menghardik invansi globalisasi secara sepihak sebagai perusak
tatanan spirit desa yang natural. Hal itu dikarenakan, globalisasi sendiri
merupakan sistem yang dilahirkan oleh peradaban modern, di mana pada kehidupan
sekarang ini akses setiap wilayah dan bidang sangat penting untuk mendukung
kreasi dan inovasi demi memperbaiki penemuan lama dan menciptakan terobosan
baru. Masyarakat desa juga tak sepenuhnya salah dalam hal konsekuensi
kehilangan jati diri desa. Masyarakat dalam konteks ini adalah warga desa yang
sedang dihadapkan pada sebuah situasi perkembangan zaman yang dikemas dengan
istilah globalisasi, yang kemudian memunculkan sebuah kondisi di mana ada
beberapa individu yang siap dengan perubahan dengan merancang sebuah terobosan
baru yang positif, kemudian ada individu lain yang tenggelam akan fatamorgana
globalisasi yang di beberapa koridornya menghasilkan sentimen negatif bagi
penikmatnya. Konsepsi jati diri spirit desa yang natural ini merupakan suatu
fokus penting di Era Milenial ini yang harus diperjuangkan bersama oleh semua
pihak, baik dari para stakeholders atau
pemangku kebijakan maupun masyarakat sendiri, yang kemudian akan menciptakan
sinergitas yang positif demi menjaga eksistensi desa. Kemudian kajian mengenai
arus tsunami globalisasi ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk
mengembangkan potensi desa, yang pada ujungnya akan bermuara pada suatu tujuan
untuk memajukan desa tanpa mengubah secara komprehensif dan struktural jati
diri desa yang natural spiritual seperti ihwalnya desa yang lahir, tumbuh, dan
berkembang hingga pada tahap saat ini.
Komentar
Posting Komentar